Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan

Mahasiswa Alumni UGM ini Skeptis dengan Penemuan Listrik dari Pohon Kedondong



Seorang mahasiswa alumni tehnik nuklir Universitas Gajah Mada, R. Andika Putra Dwijayanto, S.T., skeptis dengan penemuan listrik oleh bocah SMP dari Tanah Aceh yang langsung terkenal itu.

"Listrik kedondong itu tidak berguna dalam skala pemakaian wajar" ujarnya.

Alih-alih ragu dengan penemuan tersebut. Andika menjelaskan seperti apa pohon kedondong akan menghasilkan listrik.

Namun serasa tak terima anak sekecil ini mendapatkan perhatian publik hingga diundan ke Istana Negara.

"Kasus yang menimpa anak muda berlagak liberal ala Utan Kayu (tidak usah saya sebut namanya, biar tidak tambah terkenal) kembali mengundang komparasi. Dengan siapa? Naufal Raziq, siswa MTSn dari Aceh Timur yang diklaim menemukan listrik dari pohon kedondong.  Dianggapnya bahwa Naufal lebih berprestasi daripada anak muda liberal itu dan lebih layak menjadi perhatian istana." ujarnya.

Menurutnya penemuan semacam itu tak layak mendapatkan publikasi.

"Komparasi ini lagi-lagi bikin saya prihatin.Hype yang tampak di tengah warganet mengesankan seolah-olah penemuan Naufal ini benar-benar sebuah breakthrough hebat serta layak mendapat publikasi jor-joran." kesal Andika.

"Saya selalu skeptis dengan penemuan semodel ini" imbuhnya.

Andika pun menjelaskan bagaimana asal mula Naufal ini memulai risetnya, yang didapat dari sekolah yaitu percobaan sel volta yang selama ini orang menggunakan jeruk nipis dan kentang.

"Dik Naufal semata-mata mengulang percobaan Sel Volta yang sering menjadi bahan praktikum anak sekolahan. Bedanya, kalau selama ini orang menggunakan jeruk nipis atau kentang, yang digunakan Dik Naufal adalah pohon kedondong. Kenapa kedondong? Dugaan saya karena pohonnya terkategori asam, yang mana memenuhi syarat untuk sel Volta.

Persoalannya, sel Volta tidak pernah dilirik untuk dijadikan pembangkit listrik sejak ratusan tahun yang lalu untuk alasan yang jelas: It’s simply not good enough.

Potensi listrik dalam pepohonan untuk dimanfaatkan dalam sel Volta itu rendah sekali. Paling banter dayanya skala miliwatt (mW) alias seperseribu watt. Keasaman pohon yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan daya, tapi tentu saja tidak cukup signifikan untuk membuat perbedaan berarti.

Ya tentu saja, kalau bukan orang yang berkutat di bidang energi, jarang yang akan skeptis dengan so-called “penemuan” ini. Langsung dibikin viral seolah-olah Nikola Tesla baru telah lahir. Giliran diluruskan, langsung balik marah-marah. Duh…

Sepertinya memang harus disumpal pakai matematika.

Coba ambil studi kasus, berapa pohon kedondong yang dibutuhkan untuk menerangi sebuah rumah selama sehari? Asumsikan saja rumah itu mengonsumsi 1 kWh listrik per hari." terangnya.

Iapun menjelaskan seberapa besar listrik yang dihasilkan oleh pohon kedondong.

"Coba ambil studi kasus, berapa pohon kedondong yang dibutuhkan untuk menerangi sebuah rumah selama sehari? Asumsikan saja rumah itu mengonsumsi 1 kWh listrik per hari.

Mari kita lihat hasil penelitian BPPT yang dimuat di laman Tempo, 29 Mei 2017. Menurut peneliti BPPT, enam buah pohon kedondong di tempat penelitian Pertamina EP hanya bisa menyalakan 1 lampu LED 5 Watt selama 20 menit, dengan perkiraan daya sebesar 1,7 Watt per jam. Terbatasnya waktu pembangkitan listrik disebabkan elektrodanya yang makin lama makin aus dan mesti diganti.

Katakanlah elektrodanya bisa terus menerus diganti (walau realitanya ini tidak mungkin dilakukan dalam tataran riil), maka potensi listriknya per 6 pohon adalah 1,7 Watt, atau 0,283 Watt/pohon. Realitanya, kemampuan pembangkitan daya ini sangat tergantung kondisi keasaman pohon yang bervariasi selama setahun. Tapi di sini anggap saja keasamannya konstan.

Untuk menghasilkan listrik 1 kWh dalam 24 jam, berarti dibutuhkan pohon kedondong sebanyak ((1/24)*1000)/0,283 = ± 147 pohon.

Kalau satu pohon butuh lahan sebesar 1 m2, maka kebutuhan lahannya sebesar ± 147 m2. Kalau satu desa ada 40 rumah, berarti butuh lahan kira-kira setengah hektar, khusus untuk pohon kedondong, yang elektrodanya harus diganti 20 menit sekali. Hore!

Tentu saja tidak ada yang mau repot-repot mengganti elektroda tiap 20 menit sekali. Bagaimana kalau penggantiannya seminggu sekali? Berarti lebih banyak pohon yang dibutuhkan.

Penggantian elektroda seminggu sekali, berarti jumlah pohon yang dibutuhkan naik dalam faktor (60*24*7)/20 = 504 kali lipat. Artinya, untuk 1 rumah, butuh pohon kedondong sebanyak (147*504) = 74.118 pohon, memakan lahan seluas 7,4 hektar per rumah. Untuk desa dengan 40 rumah, butuh 2,964 juta pohon kedondong dan memakan lahan 296,5 hektar. Tiap minggu, hampir 3 juta pohon itu harus diganti elektrodanya dengan yang baru. Yeay! Lapangan pekerjaan baru buat mengganti elektroda yang aus!

Luas lahannya sendiri masih underestimate. Mana ada kebun pohon kedondong yang tumbuh terus menerus cuma berjarak 1 meter antar pohon? Bisa saja lahan yang dibutuhkan 2-3 kali lebih luas. Yuhuuu!

Saya tidak yakin riset lebih lanjut bisa menaikkan daya secara signifikan. Kalaupun misalnya secara ajaib berhasil dinaikkan jadi 10 kali lipat, 3 W/pohon, maka untuk menghasilkan 1 kWh per hari, akan dibutuhkan 14 pohon per rumah untuk penggantian elektroda 20 menit sekali dan 7000 pohon untuk penggantian elektroda seminggu sekali. Per desa, berarti butuh 556 pohon untuk penggantian elektroda 20 menit sekali dan 280 ribu pohon untuk penggantian elektroda seminggu sekali.

Sekalian saja bikin hutan kedondong, kalau begini ceritanya. Lumayan, kan, buah kedondongnya bisa dijual dan menambah pemasukan desa. Siapa tahu dari pemasukan desa ini bisa membangun pembangkit listrik mikro hidro tanpa perlu menunggu dana bantuan desa segala.

Jadi, apa kesimpulannya?

Listrik kedondong itu tidak berguna dalam skala pemakaian wajar.

Kalau cuma untuk praktikum ya bolehlah. Tapi untuk menerangi rumah? Lebih baik bangun pembangkit listrik mikro hidro saja. Lebih jelas berguna. Saya bukan penggemar panel surya, tapi kalau harus memilih antara listrik kedondong atau panel surya, jelas saya memilih panel surya.

Jadi, beginilah masalah di masyarakat dan pemerintah terkait riset seperti ini. Masyarakat terlalu gampang terpukau tapi tidak mau diluruskan oleh yang lebih paham. Mudah terjebak delusi akan suatu “penemuan baru”, padahal riilnya tidak bisa diwujudkan sebagaimana harapan.

Sementara, pemerintah malah meneruskan saja pengembangan yang tidak berguna dalam tataran riil seperti ini. Pemerintah itu seperti kasus gajah di dalam ruangan, ada solusi yang lebih jelas dan riil untuk mengatasi masalah energi (misalnya nuklir) tapi malah fokus pada hal-hal remeh yang boro-boro bisa membantu. Risetnya salah arah.

Semangat riset Dik Naufal bagus, tinggal diluruskan saja arahnya. Sebab kalau salah arah, ya wassalam. Tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebaiknya matikan saja riset soal “sumber listrik tidak berguna” yang bertujuan untuk keperluan listrik rumahan ini dan alihkan riset Dik Naufal ke moda energi yang lebih berguna, misalnya hidro atau energi surya taraf kecil. Daripada buang-buang waktu, tenaga dan dana untuk sesuatu yang tidak realistis.

Atau kalau mau dilanjutkan, arahnya diubah: Jangan ditujukan untuk menghasilkan listrik rumahan, tapi arahkan untuk membangkitkan listrik demi keperluan teknologi sensor yang butuh daya kecil. Orang-orang Teknik Fisika lebih paham soal ini. Kalau arahnya benar, insya Allah potensi daya gunanya akan jauh lebih luas daripada delusi listrik untuk rumahan dari pohon kedondong.

Intinya, jangan salah arah.

 “Part of science is acknowledging that something is never going to work.”

“What’s good about science is that it’s true, whether you believe it or not.” "

Sebelum Mengeluh Tarif Listrik Mahal, Pahami Dulu ini!

Saat ini gencar - gencarnya keluhan masyarakat mengenai naiknya tarif listrik di media sosial akibat pencabutan subsidi listrik daya 900 VA. Apakah anda salah satu pemakai daya 900VA yang terkena imbasnya juga? Kalau begitu baca ini baik-baik.



Baik kita mulai dari TDL kependekan dari Tarif Dasar Listrik yang merupakan tarif harga jual listrik yang dikenakan oleh pemerintah untuk para pelanggan PLN. Istilah Tarif Dasar Listrik bisa disebut pula Tarif Tenaga Listrik atau Tarif Listrik.

PLN memiliki golongan tarif pelanggan subsidi dan non-subsidi. Pada tabel-tabel di bawah ini akan dilampirkan tarif listrik subsidi dan tarif listrik non-subsidi.

Mayoritas pelanggan PLN adalah golongan R1-900 VA. Pada semester awal 2017, akan terjadi transisi golongan R1 900VA akan dipecah menjadi :

R-1/900 VA yang masih mendapatkan tarif subsidi
R-1/900 VA-RTM (Rumah Tangga Mampu) yang subsidinya akan dicabut

ARTIKEL PILIHAN:
- Viral, Driver Ojek Online Ini Menempelkan Daftar Dagangan Istri di Helm, Netizen Terharu!
- Masukan Tisu Kedalam Lemari Es, Ternyata Manfaatnya Sangat Luar Biasa

Disclaimer :
  • Semua tarif listrik subsidi di bawah ini berlaku untuk pelanggan listrik PLN prabayar
  • Tidak berlaku untuk wilayah yang memiliki tarif khusus daerah, contoh : Batam
  • Jika terdapat kesalahan/pembaruan data, mohon kirimkan koreksi kepada redaksi kami

Jadi berikut adalah perincian tarif dasar listrik yang disubsidi dan tidak disubsidi menurut listrik.org,

Tarif Dasar Listrik Rumah Tangga R1 (Subsidi)



Tarif Dasar Listrik Bisnis B1 (Subsidi)


Golongan tarif bisnis yang mendapatkan subsidi adalah golongan tarif B1. Sedangkan B2 dan B3 tidak mendapatkan subsidi.

Kalangan UMKM atau pebisnis kecil sangat disarankan untuk menggunakan Tarif Listrik B1.

Tarif Dasar Listrik Sosial (Subsidi)


Pengguna tarif sosial adalah masjid, sekolah, madrasah, puskesmas, panti asuhan, dsb. Berikut adalah daftar lengkap Keperluan Golongan Tarif Listrik Sosial. Seluruh golongan tarif sosial merupakan tarif subsidi.

Tarif Dasar Listrik Industri (Subsidi)


Golongan tarif industri yang mendapatkan subsidi adalah I1 dan I2. Sedangkan I3 dan I4 tidak mendapatkan subsidi.

Tarif Dasar Listrik Publik (Subsidi)


Golongan tarif P1 diperuntukkan untuk Pelayanan Publik, Kantor Pemerintah dan Penerangan Jalan Umum.

Tarif Dasar Listrik Non-Subsidi Juni 2017

Untuk golongan pelanggan non-subsidi, PLN menerapkan mekanisme tariff adjustment (penyesuaian tarif). Kebijakan ini berlaku sejak 1 Januari 2015 sesuai dengan Permen ESDM No. 31 Tahun 2014. Tariff adjustment diberlakukan setiap bulan menyesuaikan 3 faktor, yaitu : perubahan nilai tukar rupiah, harga bahan bakar, dan inflasi bulanan.

Dengan mekanisme tariff adjustment, harga listrik menyesuaikan kondisi pasar. Tarif dasar listrik non-subsidi per Juni 2017 adalah Rp 1467,28 / kWh.

Terlampir adalah Tarif Tenaga Listrik April-Juni 2017 sesuai dengan tariff adjustment untuk golongan non-subsidi :



Bagaimana pendapat Anda mengenai kenaikan tarif listrik R1 900VA (mayoritas rakyat) yang berujung pencabutan subsidi? Silakan tuliskan di kolom komentar

Ini Cara Biar Tarif Listrik di Rumah Jadi Lebih Murah, Syaratnya Mudah Kok!

Kita semua tahu banyak keluhan dimedia sosial mengenai kenaikan tarif listrik diakibatkan pencabutan Subsidinya. Namun ada caranya lho biar tarif listrik dirumah jadi lebih murah. Dijamin tokcer!



Sebenarnya jika hanya listrik yang naik tentu tidak mengapa, tapi hal ini berimbas akan naiknya harga-harga kebutuhan lainnya.

Sementara disisi lain, pendapatan statis atau bahkan, bagi pengusaha atau wiraswasta, akan mengalami penurunan omset karena daya beli masyarakat yang menurun akibat hal ini, mungkin.

Nah, buat kalian yang mau tarif listriknya lebih murah, ada caranya, namun sejauh ini terbatas bagi yang punya usaha rumahan.

Baca Juga: Curhat "Kaget" Tagihan Listriknya Membengkak, Netizen "yang enak jamannya para Wali nggak ada biaya listrik"

Sebelum kita membahas syarat dan ketentuan untuk menurunkan tarif listrik di rumah, sebagai konsumen kita perlu mengetahui beberapa kategori atau golongan yang menjadi dasar PLN menetapkan tarif dasar listrik.

PT PLN mengkatagorikan atau golongan diantaranya golongan R1, R2, R3 (Rumah Tangga) golongan B1, B2, B3 (Bisnis) dan golongan S1, S2 (Sosial). 

Untuk golongan rumahtangga, sebelum kenaikan mendapatkan subsidi adalah untuk daya 450 VA dan daya 900 VA, sedangkan 1300 VA ke atas (2200, 5500, dst) dikatagorikan masyarakat mampu. Kebijakan berbeda diperlakuan untuk golongan bisnis yang menggunakan daya mulai dari 2200 VA ke atas untuk tarifnya diberikan subsidi dengan alasan menumbuhkan usaha menengah dan mikro masyarakat untuk menunjang perekonomian negara.

Inilah kemudian mengapa masyarakat yang berlangganan listrik PLN dengan golongan R1 daya 2200 VA mendapatkan kWh lebih sedikit dibandingkan dengan pelanggan golongan B1 daya 5500 VA. Di wilayah saya sendiri perbandingannya saat membeli token pulsa listrik prabayar sebesar Rp200.000:

R1 daya 2200 VA mendapatkan 130 KWH
B1 daya 5500 VA mendapatkan 170 KWH

Terlihat jauh berbeda bukan?

Berdasar penentuan tarif inilah, kita selaku konsumen, dapat meminta untuk upgrade golongan, sehingga kita mendapatkan kWH yang lebih banyak, dengan harga yang sama. Seorang netizen melalui akun facebooknya, Eko Apriyatno, berbagi pengalamannya yang telah berhasil menggunakan cara ini!

Berikut tulisannya...

Mau sahabat tarif Listrik nya lebih murah? Syaratnya tempatnya digunakan utk usaha, (tdk sekadar rumah tinggal) misalkan : warung, toko, isi air, laundry, rental, foto copy., gudang freezer, tempat kursus, dll.. Caranya migrasikan Golongan tarif dari R1M/Rumah Tangga ke B1/UKM. Saya sdh membuktikan. Klo sebelumnya Gol.R1 dgn 100rb dapat 69,8 KWH. Maka setelah migrasi ke Gol.B1 dgn 100rb dpt 149,8 KWH !


Lalu, bagaimana untuk syarat dan ketentuannya? Ikuti terus artikel kami di wajibbaca.com bagaimana syarat dan ketentuannya. Tentunya mudah kok.