Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Kisah Kendar, Bocah SD yang Tak Hiraukan Kekurangan, Merawat Sendiri Ayahnya yang Lumpuh


Kisah bocah bernama Kendar ini sungguh memilukan. Dia setiap hari seorang diri merawat ayahnya yang terbaring tak berdaya karena lumpuh. Bagaimana ceritanya?

Mungkin banyak bagi mereka ataupun diri kita, yang ingin membahagiakan kedua orang tua, dan jawaban yang diberikan pastinya ketika menunggu kita sukses terlebih dahulu. Padahal orang tua akan sangat bahagia meskipun kita melakukan hal kecil untuk mereka. Karena mereka akan sangat bahagia ketika tahu bahwa anak mereka bisa dibanggakan meskipun dari hal yang sepele.

Also read : Tak Punya Biaya Kontrak Rumah, Sungguh Miris! Bekas Ternak Domba pun Dijadikan Naungan

Namun, lebih dari hal sepele dan malah sangat luar biasa. Inilah kisah seorang bocah bernama Kendar yang dilansir dari laman NewsDetik, sanggup merawat ayahnya yang terkena musibah yakni lumpuh seorang diri. Tak banyak anak yang seperti itu, dan inilah kisah Kendar yang diharapkan mampu menginsipirasi kita semua.

Memang, pagi itu, Kandar terlihat sangat sabar menyuapi makan ayahnya, Rasim (42), yang terkulai lemah tak berdaya di tempat tidur kayu di rumahnya di RT 06 Dukuh Pucung, Desa Karang Bawang, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah. Rumah mereka memang sangat sederhana, terbuat dari kayu dan anyaman bambu serta beralaskan tanah.

Setelah menyuapi ayahnya makan dengan nasi dan camilan warung ala kadarnya, Kendar pun bersiap berangkat ke sekolahnya di Sekolah Dasar Negeri 1 Karang Bawang. Meski tubuhnya kecil dan masih duduk di bangku kelas IV SD, umur Kendar saat ini sudah sekitar 13 tahun.

Enam tahun sudah Kendar merawat seorang diri ayahnya yang menderita kelumpuhan. Seluruh urusan rumah tangga, mulai menyediakan makanan hingga memandikan serta mengurus keperluan sang ayah lainnya dilakukannya sendiri, yang akhirnya mengakibatkan dirinya banyak tertinggal pelajaran di sekolah.

"Sehari-hari ya mengambilkan makanan untuk Bapak, nyuapin Bapak, mandiin, nyuci pakaian, nyuci piring, merapikan rumah. Saya ikhlas ngurusin Bapak," kata Kendar, Sabtu (11/3/2017).

Memang ke mana ibunya? Menurut Kendar, ibunya, Tasmini (40), terpaksa merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai pembantu agar keluarganya tetap bisa makan. Sedangkan kakaknya, Darmanto, dimasukkan ke sebuah pesantren gratis oleh warga sekitar untuk meringankan beban keluarganya.

"Untuk kebutuhan sehari-hari, nunggu kiriman. Kalau Ibu kirim, bisa makan. Tapi, kalau belum kirim, saya utang dulu di warung," sambung anak kedua di keluarganya ini.

Kendar berharap ayahnya bisa segera sembuh dari kelumpuhan agar masa depannya tidak hilang. Dia berharap bisa terus bersekolah agar kelak bisa bekerja dan ikut menopang perekonomian keluarga.

"Harapannya, Bapak cepat sembuh biar Bapak bisa merawat aku dan kakakku lagi. Pinginnya Bapak kayak dulu lagi. Sudah lama Bapak sakit," ujarnya lirih.

Sebelum mengalami kelumpuhan, Rasim jadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai penderes nira untuk membuat gula jawa. Tapi, semenjak 2010, dirinya terkena gejala penyakit cikungunya hingga dirawat selama 1 minggu di rumah sakit.

"Berobat 1 minggu di RS tidak sembuh. Jadi pulang, sampai uang habis, tidak bisa berobat lagi," ujar Kasim. Sejak saat itulah Kendar berperan merawat dirinya, sementara istrinya merantau ke Jakarta jadi pembantu rumah tangga untuk menyambung kehidupan mereka. Karena kondisi itu, Kendar terpaksa sering izin kepada gurunya karena tidak bisa berangkat ke sekolah untuk mengurusinya.

"Saya kasihan sama Kendar. Semuanya ditangani Kendar. Jadi saya nelangsa (sedih) sekali, kepingin nangis. Soalnya, anak kecil itu belum waktunya ngurusin saya, tapi sudah bekerja berat, ngurusin saya semuanya," kata Rasim, yang tergeletak lemah sambil meneteskan air mata. Apalagi Kendar juga diduga memiliki gejala penyakit yang mirip seperti dirinya. Terbukti anak ini kesulitan beraktivitas seperti saat jongkok, kakinya tidak bisa menekuk, dan kedua tangannya tidak bisa menggenggam.

"Punya anak dua sakit semua. Yang cacat Darmanto dan Kendar, tangannya tidak bisa genggam, dua-duanya, terus kaki tidak bisa nekuk, dua-duanya sakit semua. Sakit apa saya juga tidak tahu," ucapnya.

Darsim, tetangga Rasim, mengatakan hingga saat ini belum ada bantuan dari pemerintah untuk membantu keluarga tersebut. Hingga akhirnya istri Rasim terpaksa bekerja ke Jakarta sebagai tulang punggung keluarga.

"Bantuan untuk mengobati Rasim hingga saat ini tidak ada, paling bantuan yang sifatnya umum, seperti BLT. Akhirnya istrinya terpaksa berangkat ke Jakarta bekerja sebagai pembantu. Kalau untuk sekolah, mungkin sudah ada bantuan dari dana BOS atau apa, jadi guru-guru Kendar juga ikut bantu," ujarnya.

Wantoro, guru sekaligus wali kelas Kendar di SDN 1 Karang Bawang, mengatakan Kendar merupakan anak yang rajin dan suka membantu orang tua. Meskipun kadang sering terlambat dan tidak masuk sekolah, tapi dia selalu izin.

"Terlambat sering, karena harus merawat bapaknya, tapi dia anak yang rajin," ucapnya.

Wantoro menjelaskan Kendar juga anak yang jujur. Kendar jujur jika kakinya selalu sakit sehingga meminta izin agar tidak pakai sepatu atau sandal saat berangkat ke sekolah.


Also read : Foto Patroli Polisi Ponorogo Jadi Viral! Kuntilanak Nongkrong di Angkringan?

"Paling saat olahraga dia sering minder, mungkin karena fisiknya, ya. Untuk kedewasaan, dia lebih dewasa dibanding teman-temannya. Dia juga anak yang berani dan sopan. Pernah dia izin ke saya kalau kakinya sakit dan tidak mau pakai sepatu sama pakai sandal. Saya bilang tidak apa-apa, yang penting kamu sekolah," jelasnya.

"Beruntung juga teman-teman Kendar baik dan peduli. Tingkat sosial teman-temannya juga tinggi. Teman-temannya juga ikut membantu, misal Kendar terlihat termenung, teman-temannya pada jajan, akhirnya itu teman-temannya pada kasih dan menghibur Kendar," sambungnya.

Semoga kisah Kendar ini mampu memberikan gambaran kepada kita bahwa orang tua adalah segalanya dalam hidup kita. Kehadiran orang tua sangatlah memberi ketenangan, cinta, serta kasih sayang tersendiri yang bersemi di hati segenap insan yang berakal. Mereka biarkan kesedihan dan keletihan demi senyuman buah hatinya. Mereka curahkan segenap pengorbanan demi kebahagiaan sang buah hati. Mereka adalah kebahagiaan di dunia dan akhirat. Mereka adalah sekotak permata paling berharga, sekeping emas termahal yang dapat mengantarkan kita ke surga-Nya.

Memarahi Anak Itu Ada Aturannya, 2 Hal Ini Harus Anda Perhatikan!


Marah, sering kita pakai sebagai pelampiasan emosi dan tekanan perasaan. Sayangnya, kita kerap kurang kontrol ketika meluapkan kemarahan. Misalnya kepada anak. Akibatnya, anak merasa terpukul serta kecewa. Bagaimana cara yang baik memarahi anak?

Kegusaran, berang, amarah, diwujudkan melalui berbagai cara dan bentuk. Ada yang sekadar cemberut dan melakukan aksi diam. Sebagian orang melakukannya dengan suara yang tinggi sambil mencak-mencak. Ada pula yang marah sambil ringan tangan mencubit, menampar bahkan memukul orang yang menjadi sasaran amarahnya.

Bukan rahasia lagi, orangtua kerap memukul anaknya dalam melampiaskan amarahnya. Ulah sang anak yang menjengkelkan menjadi alasan mereka menampar atau memukul. Terlebih lagi bila orangtua menghadapi masalah di kantor, emosi tinggi yang muncul terkadang dilampiaskan kepada anak di rumah.

Pakar psikologi anak remaja DR. Seto Mulyadi. Mengatakan, sudah waktunya para orang tua meninggalkan metode marah primitif dalam mengungkapkan kekesalan kepada putra/putrinya. "Meski marah adalah sifat manusiawi, caranya janganlah sampai merugikan atau menyakitkan hati orang lain. Terlebih lagi sampai menghambat pertumbuhan anak-anak,"

Mereka Ibarat Kaca (Memantulkan apa saja yang ada di depannya)


Adalah manusiawi pula bila anak tidak suka ditekan atau disudutkan. Karenanya, mengungkapkan kemarahan dengan cara itu, bukan hanya tak efektif dan sampai pada sasaran, tetapi juga dapat menimbulkan sakit hati pada anak.

BACA JUGA : “Mama, Kenapa Kamu Selalu Melihat HP?” Surat si Kecil Untuk Sang Bunda

"Nah, kalau hendak mengungkapkan kemarahan, sampaikanlah dengan mempergunakan dengan konsep pesan diri. Jangan sampai merusak kumunikasi. Karena, pada dasarnya anak tidak ingin divonis dan tidak dihargai.

Pesan diri yang dimaksud adalah mengungkap perasaan atau sikap yang timbul akibat perbuatan anak. Dalam hal ini orang tua menyampaikan kepada putra/putrinya bahwa mereka terganggu dengan perbuatan mereka. Dengan komunikasi yang baik, usahakan anak mengerti persoalan maupun keberatan Anda akibat perilaku mereka. Jangan lagi hanya menuduh, menjelek-jelekkan atau bahkan sampai memukul.

Dengan begitu, lanjut Seto, anak akan mengerti bahwa perilakunya telah menggusarkan dan mengecewakan orang tua. Metode seperti ini secara otomatis akan diserap dan dipraktekkan pula oleh anak kepada setiap orang yang mengganggunya, termasuk orangtua sendiri.

“Anak itu ibarat kaca. Mereka memantulkan apa yang mereka terima dan alami dari orangtuanya. Nah, bukankah lebih baik memberikan 'cahaya' yang baik dan berguna?! Bila mereka menerima bahwa marah tidak identik dengan kekerasan, nantinya mereka akan menerapkan hal tersebut dalam kehidupannya.

Peraih penghargaan The Outstanding Young Persons of the World dari Jaycess International ini memberikan tip yang baik ketika melampiaskan rasa marah. Ketika marah, ujarnya, usahakan agar emosi positif lebih besar daripada emosi negatif. Perbandingannya 75:25.

"Perkembangan emosi seseorang akan sehat bila emosi positifnya lebih besar daripada emosi negatif. Marah memang boleh dan wajar, tapi jangan hanya marah melulu. Tentunya tidak baik bila anak menerima emosi negatif terlalu banyak," papar Seto lagi.

Jangan keburu menyalahkan remaja Anda yang sering tawuran di sekolah, bila Anda sendiri sering memukulnya ketika kesal atau marah. Ketidaksenangannya akan ditampilkan dengan perilaku negatif, seperti berkelahi atau semacamnya. Hal ini bisa di pelajari dari perlakuan orangtuanya kepada dirinya.

Kepada kaum ibu, Seto menekankan pentingnya pemahaman bahwa metode pendidikan anak yang terbaik adalah pendekatan bahasa ibu. Dalam lima tahun pertama usia anak, peran ibu sangatlah besar. Dapat dibayangkan kemungkinan yang terjadi, bila pada usia itu anak sering mengalami luapan emosi negatif dari sang ibu.
Jauhi Kekerasan

Jangan Gunakan Kekerasan!


Seto juga melihat pentingnya mensimbolisasikan amarah. Artinya, marah tidak harus dengan memukul meja, membanting pintu atau semacamnya. "orangtua harus mengganti kebiasaan itu dengan sikap yang lebih tenang. Dengan diam, misalnya," katanya.

Ketika Anda berdiam kata sambil memandang anak dengan tajam, maka anak akan sadar bahwa perilakunya telah mengganggu atau membuat Anda marah. Sikap seperti ini, menurut Seto, lebih sehat, efektif dan dapat diterima.

Kalaupun hendak memberikan hukuman kepada anak, saran Seto, berikanlah hukuman yang jauh dari kekasaran. Seperti menunda hadiah yang dijanjikan pada anak, bila mereka masih berperilaku tidak sehat. Atau mengurangi/menghentikan uang jajan untuk beberapa waktu.

"Lupakanlah sikap marah yang primitif. Seperti menggebrak meja, membanting pintu hingga memukul anak. Marah jangan diidentikkan dengan kekasaran," ujar Seto lagi.

BACA JUGA : Masih Ingat Sosok Malang Ini? Hampir Setahun Berlalu, Beginilah Wajahnya Sekarang..

Sebaliknya, mulailah marah yang berbudaya, halus dan bernilai seni. Adalah suatu seni tersendiri dapat mengungkapkan amarah tanpa menyakiti hati orang lain. Kunci keberhasilan marah, menurut Seto, adalah keefektifannya. "Bila dengan berdiam diri, tanpa banyak kata, ternyata anak mau mengubah perilaku jeleknya, bukankah itu lebih baik. "Jangan sampai merusak komunikasi."

Jika orangtua sering memukul anak ketika marah, menurut Seto, itu akan mengganggu perkembangan yang sehat dari si anak. "Selain is menjadi anak yang agresif dan sering berperilaku di luar kontrol kewajaran, mereka juga menjadi pribadi yang labil. Karena itulah, kenapa harus memakai kekerasan bila kekerasan itu sendiri tidak akan pernah menyelesaikan masalah, tapi justru menimbulkan masalah baru," paparnya.

Memarahi anak secara primitif, kata Seto, berarti juga membuat anak kehilangan harga dirinya. Akibatnya, akan timbul reaksi atau pemberontakan dari sang anak. Mereka belajar memecahkan masalah dengan marah dan kekerasan, dari orangtuanya. Lalu, timbullah masalah-masalah baru dalam kehidupannya. la selalu berpikir dan bertanya-tanya, Mengapa saya susah sekali menyelesaikan suatu masalah?

Memasuki masa dewasanya nanti, pola-pola pengasuhan dengan kekerasan semakin mempengaruhi daya pikir dan sistem kerjanya. Seto mencontohkan Hitler, seorang pemimpin yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang kurang kasih sayang dan kelemahlembutan.

Memang, menurutnya, tidak selamanya anak-anak yang dibesarkan dengan kekerasan akan bermasalah. Pada suatu saat, is dapat saja sadar dan menjauh dari kekerasan. Pengalaman pribadinya dijadikan cambuk untuk tidak meneruskan penderitaan itu kepada orang lain.

Tetapi Seto mengatakan, tentunya perubahan sikap itu turut dipengaruhi oleh lingkungan dan pergaulan si anak. Pelajaran-pelajaran hidup yang diterima anak sangat mempengaruhinya melewati titik kehidupan tersebut. "Itulah sebabnya, orang-orang di sekitar anak, terutama orangtua, sangat berpengaruh bagi perkembangan mereka," jelasnya lagi.

Berbahayanya, bila di lingkungan luar keluarga pun ia mendapati banyaknya kekerasan dan semosional yang negatif. Anak yang tadinya berperilaku seperti cermin, dapat berubah menjadi kaca pembesar. Kaca yang dapat meneruskan panas hingga mampu membakar, akibat menerima panas pada titik yang pas. Intinya, anak kemungkinan malah melebihi kebiasaan orangtuanya dalam memandang konsep sejauh mana dan bagaimana amarah boleh diluapkan.

Meskipun marah ala primitif dihindari, namun menurut Seto, orangtua jangan pula berlagak malaikat, seolah semuanya berjalan dengan baik. "orangtua cukup berlaku wajar dan manusiawi. Jangan terlalu menerapkan harus begini, harus begitu. Bila harus marah, marahlah apa adanya. Hanya, diarahkan sebagai pesan diri," lanjutnya.

Dengan sering berdiskusi, Anda pun dapat meminta anak sebagai pengontrol emosi Anda ketika sedang marah. "Kalau perlu, minta maaf kepada anak karena Anda telah memarahinya. Putera-puteri Anda pun akhirnya dapat belajar untuk meminta maaf kepada Anda maupun orang lain.

Mungkin sulit dilakukan, sehabis marah Anda meminta maaf pada anak. "Tapi orangtua harus berani berbuat itu. Tidak ada salahnya memulai demi kebaikan bersama. Di situlah letak kemanusiawian kita," jelas Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta. Nah, kenapa tidak Anda mulai dari Sekarang.

“Mama, Kenapa Kamu Selalu Melihat HP?” Surat si Kecil Untuk Sang Bunda


“Saat mendengar anak kami membacakan diarinya, aku dan suami awalnya masih bisa tertawa, namun tiba-tiba kami merasa malu”, ucap ibu ini kepada kami, setiap pulang kerja.

Dia dan suaminya selalu melihat HP mereka, melihat berita maupun Facebook, terkadang anaknya disamping  ingin ditemani membuat PR, namun tetap saja dicuekin.

“Tidak terpikirkan bahwa sikap kami dapat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan anak kami.”, kata ibu ini. Kelak ia kan melepaskan HPnya dan menemani anaknya.

Saat di sekolah, anak yang masih duduk dibangku SD ini mengatakan, “makan lihat HP. Aku mengerjakan PR, mereka main HP. Saat hendak tidur, masih duduk di kasur sambil main HP.” terkadang melihat kedua orangtuanya selalu main HP, dia jadi ingin buru-buru menyelesaikan PRnya dan pergi bermain juga.

“Aku rasa mama lebih mencitai HP, dan lebih perhatian pada HP.”, ucap anak SD ini. Terkadang saat ibunya bermain HP, ia berteriak berapa kali pun ibunya tak mendengar dan menjawabnya.

BACA JUGA : Masih Ingat Sosok Malang Ini? Hampir Setahun Berlalu, Beginilah Wajahnya Sekarang..

“Ya betul seperti itu, terkadang malah melihat HP didepan anak kami”, kata ibu yang lain.

Terkadang saat anak kami mengerjakan PR, ia akan duduk disamping sambil melihat HP, pikirnya yang penting tidak berisik dan mengganggu, tak disadari bahwa sikap seperti ini dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

“Lain kali pasti harus berubah, setidaknya tidak bermain HP di depan anak-anak.”, begitu kata sebagian besar orang tua.

Berikanlah Lebih Banyak Waktu Untuk Menemani Anak
Seorang ahli mengatakan bahwa diari seorang anak biasa menggambarkan banyak kondisi orang tuanya.

Saat ini banyak sekali orang tua yang saat pulang ke rumah, langsung melihat HP, bermain Facebook, browsing, nonton drama korea dan menghabiskan watunya di layar HP, jauh lebih lama daripada menemani anaknya.

Untuk orang tua, ingatlah bahwa “teladan” sangat penting. Orang tua sebagai “guru pertama” bagi anak-anak, jika selalu bermain HP, anak akan mengikuti orang tuanya, diusia kecil sudah “dikontrol oleh HP”, dapat mempengaruhi kesehatan juga.

Selain itu, akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Anak akan kehilangan “rasa kasih sayang”, kehilangan “kekuatan kasih” dan membuat anak menjadi kesepian dan pemalu.

Sebaiknya dapat membagi waktu dan peran juga antara suami istri. Saat suami sedang sibuk bekerja dan memerlukan HP, istri harus menjaga anaknya, menemani belajar dan bermain.

Saat istri bermain HP, suami dapat membawa anaknya pergi olahraga, dll. Dan juga dapat diterapkan aturan seperti, akhir minggu tidak boleh menggunakan HP.

Beginilah isi surat anak kecil tersebut kepada orangtuanya,

“Bulan 3, tanggal 8, hari Selasa. Ini adalah hari ibu.

Hari ini aku ingin berterima kasih pada mama, setiap hari sangat sibuk dan bersusah payah.

Awalnya, aku ingin bercerita pada mama, tapi sepertinya mama tidak begitu suka mendengar cerita ku. Terus menatap HPnya.

Ini membuat aku sedih. Aku berpikir, mungkin dengan memberikan ucapan-ucapan selamat, mama akan lebih senang.

Jadi, aku mengucapkan selamat hari ibu pada mama, namun mama tetap saja melihat HPnya. Aku semakin sedih lagi. Alu berpikir, cara ini pun tak berhasil, aku coba memijat punggung mama.

Saat mulai memijat punggung, aku berusaha sekuat tenaga, tapi mama tetap saja mama melihat HPnya. Diwajahnya tak ada senyuman. Aku semakin sedih lagi, bersiap mencuci kaki mama ku.

Setelah mencuci kakinya, mama akhirnya tidak melihat HP lagi, hatiku sedikit senang. Aku berusaha mencuci sebaik mungkin.

Setelah selesai, aku berharap mendapat sedikit pujian, namun mama malah mengatakan, “hari ini cuci kakinya lumayan, disiram sedikit lagi sudah boleh.” lalu mama keluar dari kamar, sebelum menutup pintu, tidak lupa ia mengatakan, ‘jangan lupa menulis diari’.

Inilah cerita sedih ku melewati hari ibu.”

Hikmah yang dapat diambil: Jadilah orang tua yang bijak dan berikan waktu mu pada anakmu, dan bukan HP. Jangan lupa dibagikan juga pada yang lain!

Update Terbaru Wanita Ini Mohon Maaf Kepada Netizen Soal Hujatan Ke Ibu Hamil

Miris sekali dengan pemikiran mbak yang satu ini. Mungkin dia belum pernah merasakan istimewanya menjadi ibu hamil jadi bsa memiliki pemikiran seperti ini. Padahal dia perempuan ya????

*Update terbaru mbak shafira sudah minta maaf



Mulutmu adalah harimaumu.

Ungkapan itu merupakan peribahasa yang banyak dipesankan oleh para orangtua kita.

Tujuannya adalah supaya kita lebih berhati-hati lagi dengan apa yang kita ucapkan.

Peribahasa itu pada saat itu tentunya akan terus berlaku, walaupun kadang sedikit diubah kalimatnya.

Tepatnya, menjadi "jempolmu adalah harimaumu".

Artinya, apa yang kita tuliskan di sosial media, tentunya harus bisa dipertanggungjawabkan.

Baru-baru ini seseorang yang memiliki akun Facebook Shafira Nabila Cahyaningtyas menghebohkan dunia maya.

Sebab, melalui akun tersebut, orang tersebut menuliskan sebuah tulisan tentang ibu hamil.

Dalam tulisan itu, dia merasa jengkel karena disuruh mengalah pada ibu hamil saat berada di KRL rute Jabodetabek.

Baca: Wanita Ini Tulis Hujatan "Kenapa ibu hamil selalu menjadi prioritas?" Jengkel Karena Disuruh Mengalah Pada Ibu Hamil

Atas tulisannya itu, Shafira pun mendapatkan berbagai kecaman dari netizen seperti yang dikutip dari jatim.tribunnews.

Berikut ini adalah komentar dari para netizen.

@YanNie Handa Camui,"Hadeh, ibu hamil itu capek ya, bawa beban berat di perutnya, klo berdiri terus, darah numpuk di kaki, hasilnya bengkak dan itu sakit. Ayo lah, kita masih sehat, tak ada salahnya nolong dikit. Ibu yg hamil itu punya beban berat, kenapa.... mual, mau makan apa2 muntah, masih punggung sakit, pinggul sakit... selain itu dia jagain perutnya agar ga kenapa2... #saveIbu2Hamil q durung tapi q reti gimana pengorbanannya"

@Risa Eka,"Semoga mba nya ntar hamil kembar 5..aamiin"

Update terbaru mbak shafira sudah minta maaf, berikut status permintaan maafnya kepada netizen yang di unggah akun hasil screenshot Awalisa Elkana Sulpi




Bunda, Jangan Suka Bentak Anak ya.. Coba Cara Ini Agar Buah Hati Patuh Tanpa Harus Kena Bentak

Setiap orang tua pasti punya cara tersendiri bagaimana merawat dan mendidik anak-anaknya. Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang melakukannya dengan cara yang salah sehingga berdampak buruk pada si anak.



BACA JUGA: Bukannya Pembatal Atau Dilarang Saat Puasa, Tapi Ini Hukumnya Makruh. Hati-hati Dengan Nomor 2!

Seperti halnya membentak. Bunda, sebenarnya bentakan itu tidak perlu karena itu semua kita lah yang memulai dan mengajarinya. Padahal anak bisa patuh tanpa harus kena bentak. Salah satunya dengan mengikuti cara berikut ini yang dikutip dari vemale.


1. Sebut namanya dengan baik dan lembut

Pikiran anak-anak sering tidak fokus. Banyak hal yang bisa dipikirkan, mulai dari soal teman-temannya, sekolah, dan hal-hal lainnya. Untuk mendapatkan perhatian anak, sebutkan dan panggil namanya dengan nada positif dan biasa. Akan butuh waktu beberapa saat sampai Umi bisa mendapat perhatian anak sepenuhnya. Di sini Umi memang harus bisa benar-benar bersabar. Saat perhatian anak sudah Umi dapatkan, baru Umi sampaikan pesan yang ingin Umi berikan pada anak.

2. Jangan gunakan kata yang kasar

Sebisa mungkin hindari penggunaan kata jangan,tidak boleh, dan sejenisnya. Agar anak merasa percaya diri dan nyaman, Umi perlu menggunakan kata-kata yang positif. Jelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh anak. Misalnya, “Tolong bawa piring-piring kotor ini ke bak cucian, ya. Terima kasih.” Hindari menggunakan kata atau nama panggilan yang membuat anak tak nyaman.

3. Lakukan kontak mata

Dekati anak, usahakan posisi sejajar dengannya (Umi bisa menunduk atau berjongkok), lalu tatap matanya. Tapi jangan terlalu terlihat mengancam. Cara ini untuk memastikan Umi menaruh perhatian sepenuhnya saat berkomunikasi dengan anak. Anak-anak pun akan lebih nyaman saat orang tua yang mengajaknya bicara berada dekat dengannya.

4. Bersikap Asertif

Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Ketika Umi berkomunikasi dengan anak, Umi perlu bersikap asertif. Gunakan kalimat dan nada yang jelas, positif, dan padat. Sebagai contoh, “Setelah selesai membereskan mainan, Adik boleh nonton TV atau main di luar.” Jelaskan pada anak soal apa yang harus mereka lakukan, apa alasan mereka, dan bagaimana mereka bisa menyelesaikannya.

Satu lagi yang harus Umi perhatikan saat berkomunikasi dengan anak adalah perasaan atau mood yang sedang ia rasa. Di sini Umi memang harus lebih peka dan hati-hati. Apakah anak sedang lelah, marah, kecewa, cemas, atau mengkhawatirkan sesuatu, perhatikan raut wajahnya. Sebisa mungkin jangan menghakimi anak. Posisikan diri Umi sebagai orang tua yang akan membantu mereka mengatasi masalahnya. Sehingga komunikasi bisa lebih diterima.

Berbicara pada anak memang sangat berpengaruh terhadap mental, emosi dan sikap anak nantinya. Namun tindakan itu memerlukan teknik dan meode khsus. Semoga saja apa yang bunda lakukan akan berdampak baik bagi si buah hati..

Wanita Ini Tulis Hujatan "Kenapa ibu hamil selalu menjadi prioritas?" Jengkel Karena Disuruh Mengalah Pada Ibu Hamil

Miris sekali dengan pemikiran mbak yang satu ini. Mungkin dia belum pernah merasakan istimewanya menjadi ibu hamil jadi bsa memiliki pemikiran seperti ini. Padahal dia perempuan ya????



Mulutmu adalah harimaumu.

Ungkapan itu merupakan peribahasa yang banyak dipesankan oleh para orangtua kita.

Tujuannya adalah supaya kita lebih berhati-hati lagi dengan apa yang kita ucapkan.

Peribahasa itu pada saat itu tentunya akan terus berlaku, walaupun kadang sedikit diubah kalimatnya.

Tepatnya, menjadi "jempolmu adalah harimaumu".

Artinya, apa yang kita tuliskan di sosial media, tentunya harus bisa dipertanggungjawabkan.

Baru-baru ini seseorang yang memiliki akun Facebook Shafira Nabila Cahyaningtyas menghebohkan dunia maya.

Sebab, melalui akun tersebut, orang tersebut menuliskan sebuah tulisan tentang ibu hamil.

Dalam tulisan itu, dia merasa jengkel karena disuruh mengalah pada ibu hamil saat berada di KRL rute Jabodetabek.

Shafira menuliskan, saat itu dia bersama temannya naik KRL dari Bogor dengan tujuan Stasiun Tanah Abang.

Shafira naik pada pukul 07.05 WIB di gerbong khusus perempuan.

Saat berada di KRL, Shafira memang berencana untuk tidur.

"Gue duduk nih jejeran sama temen gue, niatnya mau tidur sampek stasiun tujuan akhir. Gue emang uda terbiasa tidur di krl. Krl udah kayak rumah kedua buat gue,"tulis Shafira dalam statusnya itu.

Namun, niat itu harus diurungkan oleh Shafira.

Sebab, saat tiba di Stasiun Citayam, Shafira tiba-tiba dibangunkan oleh satpam.

Dia diminta berdiri dan berpindah ke tempat duduk lainnya.

Sebab, saat itu memang ada ibu-ibu hamil yang membutuhkan tempat duduk.

Shafira pun berpindah tempat.

Meski demikian, Shafira rupanya merasa keberatan dengan hal itu.

Sebab, meski telah berpindah, tapi Shafira menuliskan dalam statusnya sebenarnya dia merasa jengkel atas sikap satpam tersebut.

"Jujur jadi pusing nggak ketulungan dan sampek sekarang masih pusing. Pusing ditambah kesel dan pengen mengumpat si satpam dan ibu hamil,"tulis Shafira seperti yang dikutip dari jatim.tribunnews.com.

Tidak hanya itu, Shafira juga menuliskan dirinya semakin tidak merasa hormat dengan para ibu hamil.

"Kenapa ibu hamil selalu menjadi prioritas? Semakin lama gue semakin gak respeck sama ibu2 hamil. bener2 uda yang semuak itu!" tambah Shafira dalam tulisannya.

Belakangan, tulisan itu sudah tidak ada lagi dalam beranda Facebook milik Shafira.



Meski demikian, akun Facebook Awalisan Elkana Sulpi sudah meng-capture tulisan itu, dan membagikannya.

Atas tulisannya itu, Shafira pun mendapatkan berbagai kecaman dari netizen.

Berikut ini adalah komentar dari para netizen.

@Tika Lotus,"wah mbakny kurang aqua. sok yen mbobot ben isine kembar 7"

@YanNie Handa Camui,"Hadeh, ibu hamil itu capek ya, bawa beban berat di perutnya, klo berdiri terus, darah numpuk di kaki, hasilnya bengkak dan itu sakit. Ayo lah, kita masih sehat, tak ada salahnya nolong dikit. Ibu yg hamil itu punya beban berat, kenapa.... mual, mau makan apa2 muntah, masih punggung sakit, pinggul sakit... selain itu dia jagain perutnya agar ga kenapa2... #saveIbu2Hamil q durung tapi q reti gimana pengorbanannya"

@Risa Eka,"Semoga mba nya ntar hamil kembar 5..aamiin"

BACA JUGA: Diantara Tanda Orang Yg Meninggal Khusnul Khotimah Itu Salah Satunya Dari 10 Hal Ini No 1 Sepele Tapi Paling Susah



Tapi, beberapa jam setelah mencurahkan isi hatinya karena tak setuju mendahulukan ibu hamil di KRL, Dia akhirnya meminta maaf. Apa isi permintaan maafnya? Silahkan baca DI SINI.

TES: Apakah Istri Anda Sudah Bahagia? Penting Dibaca! Ikuti Cara Ini untuk Mengetahuinya


Istri saya mungkin sudah cukup bahagia toh sudah saya beri uang bulanan dan uang belanja cukup. Lantas, apa benar memang sudah bahagia?

Berumah tangga, ibarat menumpang kapal di samudera luas. Terkadang tenang tanpa gelombang, sesekali berguncang diterjang ombak dan badai. Agar kehidupan sebuah keluarga langgeng, maka suami dan istri harus berperilaku sesuai adab Islami dalam perkawinan. Para suami sangat perlu memastikan kebahagiaan istrinya, sebab istri yang bahagia adalah awal bagi keharmonisan rumah tangga.

Artikel pilihan : Ini Dampak Mengerikan Jika Ibu Selalu Memarahi Anak, Awas Bisa Jadi Begini!

Anak-anak pun akan merasakan dampaknya, ketika kedua orangtuanya bahagia, dengan sendirinya anak-anak akan tumbuh dan berkembang dalam situasi keluarga yang penuh kehangatan. Mengingat betapa pentingnya istri yang bahagia, berikut adalah 10 tanda yang perlu dipahami oleh para suami untuk mengetahui apakah istri-istri mereka sedang bahagia atau tidak? Yuk, coba dites apakah istri Anda sudah cukup bahagia dalam rumah tangganya?


Perhatikan kegiatan sehari-hari istri Anda dari mulai bangun pagi hingga akan beranjak tidur. Istri yang bahagia biasanya akan penuh dengan semangat. Istri Anda juga akan jarang 'merepotkan' Anda, tapi ia akan berusaha untuk bisa mandiri dan memastikan semua kebutuhan keluarga terpenuhi.


Logikanya ketika seseorang sedang bahagia mustahil ia akan marah-marah tanpa ada alasan yang jelas. Istri yang bahagia akan mampu mengendalikan emosinya, ia sadar bahwa kemarahan tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, tapi justru akan semakin memperkeruhnya.


Kondisi kejiwaan seseorang umumnya dipengaruhi oleh berbagai masalah yang terjadi dalam hidupnya. Oleh karena itu, ketika seorang istri sedang bahagia dengan sendirinya stres akan pergi menjauh.


Istri yang bahagia umumnya akan sangat peduli dengan penampilan dan kondisi kesehatan tubuhnya. Untuk itu, ia akan menjaga dengan sebaik mungkin dengan cara mengonsumsi makanan sehat, olahraga dan istirahat yang cukup.


Perhatikan bagaimana cara istri Anda tersenyum ketika Anda goda, sebab senyuman yang ceria dan tulus tidak akan pernah bisa dilakukan oleh seseorang yang suasana hatinya sedang tidak bahagia.


Gairah seksual seseorang sangat dipengaruhi oleh suasana hatinya. Maka dari itu, ketika seorang istri sedang bahagia dengan sendirinya gairah seksualnya akan tetap terjaga.


Perhatikan bagaimana cara istri Anda mengurus rumah tangga atau ketika ia sedang bertemu dengan orang lain. Istri yang bahagia umumnya akan sangat perhatian dan tidak mengalami kesulitan ketika berinteraksi dengan orang lain.

Artikel pilihan : Daripada Ragu, Ternyata Ini 5 Tanda yang Nyata Jika Dia Siap Mempersuntingmu!


Ketika kebutuhan lahir maupun batin istri tercukupi pasti ia akan merasa sangat bahagia dan nyaman. Oleh karena itu, ketika melihat ada orang lain sedang mengalami kesulitan, maka dengan sendirinya rasa iba dan keinginan untuk membantu akan muncul dari dalam hatinya.


Istri yang bahagia akan sangat peduli dengan penampilannya, baginya penampilan yang selalu terjaga adalah bentuk untuk menghargai diri sendiri, keluarga, terlebih menghargai suaminya.


Terakhir, istri yang bahagia akan penuh dengan ucapan syukur. Mungkin baginya keadaan ekonomi bukanlah satu-satunya faktor pendukung kebahagiaan, tetapi melihat suami yang setia, anak-anak tumbuh sehat dan penurut, rumah tangga bahagia, dan sebagainya. Baginya itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia

Bagaimana menurutmu?